Skip to main content

Posts

Asing dan Akrab

Aku mencoba berpijak di tempat ini. Dan hujan yang mengguyur menusuk tengkukku. Dinginnya kusanggah berkali-kali hingga aku kebasahan olehnya, pun aku menolak untuk berteduh. Segala sudut di tempat ini tak ada yang mampu melindungiku, namun aku berusaha melingkupinya dengan lengan kurusku agar suatu hari terpeluk ia dengan keberadaanku. Ada sebuah pohon kersen mungil, dan di bawahnya tanah licin yang tertimpa dedaunan kering. Kemudian dedaunan itu berubah hitam, dan tanah kering menjadi gambut. Hujan turun tanpa henti. Tubuhku menggigil dan pakaianku serasa menyatu dengan kulit. Aku memeluk belaian sensasi familiar yang tak berbentuk. Gemuruh langit terdengar seperti irama jantungku; bergetar di tengah beku. Aku berdiri dilawan deru angin yang berusaha kujabat agar menjadi kawan, dan pohon-pohon yang bergoyang serupa sorakan semu. Dalam gema keheningan yang luas dan tak berdinding ini kupikir aku pulang. "Inilah tempatku," ucapku pilu.

Juli 2022

Beberapa tahun terakhir ada kesadaran baru yang kita temukan perihal penyesalan dan penebusan. Kita telah sampai pada kesimpulan bahwa penghukuman yang sesungguhnya berasal dari diri sendiri. Bahkan kamu tidak menangis, kan? Karena kamu sadar bahwa kamu pantas mendapatkannya. Kemudian kita kembali disadarkan; ada sudut pandang lain yang tidak sampai diterima mata. Bahwa luka yang ditimbulkan itu sakitnya hanya bisa diukur oleh mereka yang mengalaminya saja. Jadi penebusan, walaupun sudah berlarut-larut, kita tidak akan pernah sampai pada keyakinan bahwa itu cukup. Sebaliknya, itu tidak akan pernah cukup. Bertahun-tahun kemudian kamu berjalan di kota dan menggeser layar ponselmu. Kamu membaca berita terbaru tersangka korupsi yang keluar masuk penjara berkali-kali. Lalu karena kamu sangat kesulitan melulu berkutat dengan rasa bersalahmu, akhirnya kamu mulai membandingkan siapa yang lebih buruk di antara kalian. Penyesalan, penebusan, rasa bersalah ... mereka semua tidak ada bentuk ...

Memeluk Cahaya

Aku mencoba menggenggammu di antara jemariku Namun kamu melesat tak tergenggam Menyisakan gelap dan kehampaan Kutunggu kamu di antara dunia yang mengabu Namun kamu tidak pernah ada di sini untuk membuatnya berwarna Aku bertanya-tanya, siapa dirimu? Apa dirimu? Kuserukan kerinduanku yang amat rapuh di malam-malam sebelum tidur Di mimpi yang terlihat nyata Pada nama-nama yang tak bernama Pada entitas tanpa identitas Dimana kah kamu? Kutangisi kehadiranmu dengan mata yang mengering Bahwa aku kehausan dan tak bisa bernafas lagi Bahwa aku sendirian dan tak bisa melihat lagi Bahwa aku ingin berada di sisimu Aku ingin bersama denganmu

You + Me = Alone

Hi. It's been 10 years since the first step of facing bigger world. I did not realize it's been a decade, but I'm counting and grouping times based on two patterns of events; white and black, good and bad. I thought the first step is a white one, and the day after three years from it would be black. But turns out I don't know what is white or what is black, and it is not fair to decide it like that. Because who I am? I realize that they are grey, all of them. Maybe it is dark grey or light grey or mid grey, I don't know if you can call it so. But for the safest line I could step on, I know they are grey. And every time the color was changing, between the bar, I unconsiously piled up my skin. How those colors affect me. And I found many things. Most of them are scars, like bruises or scratch. Most of them are ugly too, because it left a mark, and it will always be there if I look at my self, whether somebody point it out to me or I could just low my head and see it c...

struktur

dunia hampir runtuh seperti bulan yang gagal bercermin tatkala kaki-kaki patah satu per satu seperti telapak tangan yang meringik tatkala surya menebar rasa tanpa asa berkelok-kelok berliku-liku mendongak surai berdenting khayalan lampu kelap kelip aliran listrik warna warni suka cita tawa asing menjelma bising namun dadanya kembang kempis seolah bahagia itu gratis kini kilau menerpa air got cahaya bulan telah diserobot dunia hampir runtuh dunia siapa, dunia siapa-siapa - 07

Korupsi: Kejahatan Luar Biasa Yang Berdampak Masif Terhadap Segala Aspek Kehidupan

BUKAN suatu rahasia lagi bahwa negara Indonesia memiliki tingkat korupsi yang cukup tinggi. Bahkan kita bisa mendapatinya dalam hal-hal kecil di kehidupan sehari-hari, seperti tidak datang tepat waktu saat menghadiri pertemuan, atau menambah waktu ketika suatu pertemuan seharusya telah selesai. Menurut Transparency International (TI)  tahun 2019, Indonesia berada dalam peringkat 85 dari 180 negara dengan skor 40/100. Angka yang masih pantas disebut tinggi, namun mengalami peningkatan sebanyak 2 angka dibanding tahun 2018. Artinya, pergerakan Indonesia dalam memberantas tindak pidana korupsi mengalami kemajuan yang positif. Meskipun mengalami progress yang cukup baik, tetap tidak bisa dielak bahwa korupsi di Indonesia masih menjamur dan memberikan dampak di banyak sektor kehidupan, mulai dari kerugian dalam ekonomi negara hingga ke lingkungan alam. 1. Dampak Korupsi di Bidang Ekonomi Negara-negara berkembang umumnya memiliki pertumbuhan ekonomi yang lemah dan jumlah kemiskinan yang ...

Jebakan

Esokku tak ketara Jemariku menyisa cakaran-cakaran putus asa Pada tembok sekelam jelaga Kaku sekali nafasku Seperti baru mendapat paru-paru Kedipanku kalah cepat dengan kilauan lampu bioskop tua Langkahku tak mampu menyalip nenek jompo tetangga kita Krek krek Kaki kuseret Krek krek Tumitku lecet Krek krek Kukuku patah Krek krek Aku berdarah Luka luka luka Siapa tahu itu dusta Sakit sakit sakit Rintihanmu terdengar pelit Tik tik Jam tidak berfungsi di dimensi ini Hanya ada gelap dan terang Pertanda malam dan siang Tok tok Pintu tidak terpasang di rumah ini Hanya ada langit kosong Penuh lorong gorong-gorong Bukan rumah kita Rumah Tuan-Tuan Mereka datang melibas batas realitas Mereka menjual mimpi Tapi bukan impian Mereka kotor Seperti bajumu, rambutmu, hatimu Semua yang ada padamu - 07

Kuceritakan Sebuah Rahasia

Aku pernah memecahkan sebuah gelas Hingga hancur dan kepingannya berserakan kemana mana Bergegas aku mengambil perekat Berharap gelas itu masih bisa selamat Namun sekalipun aku bersusah payah yang kudapati hanya tangan berdarah Sekalipun aku menukar jiwa ia tak kembali sedia kala Ia retak Ia rusak Lalu aku memutuskan untuk menyimpan gelas itu Di lemari kaca rahasiaku Kusimpan rapat-rapat Erat-erat Bersama serpihan-serpihan yang tak mau menyatu Bersama dengan ketidaksempurnaan yang hanya aku yang tahu --07

Kita

Kita berteman saat aku baru saja mendapat sebuah sendal baru. Warnanya ungu, bukan warna kesukaanku. Tapi Ibu yang membelinya, maka detik ini warna ungu adalah yang terbaik. Warna ungu adalah warna kita. Besoknya kita masih berteman, kuajak kamu keliling sekolah, ke lapangan berumput, taman bermain, dan ruang kelas. Kuajarkan kamu cara membaca, cara menulis juga. Kuajarkan semua yang aku tahu, dan kamu akan mengajarkan yang kamu tahu. Karena kita adalah teman. Kemudian aku ingin mengajarkanmu segalanya tentang dunia. Tapi sayangnya aku tidak tahu dunia. Satu-satunya yang kutahu hanyalah dunia kita. Kamu bilang kamu juga tidak tahu dunia. Jadi bagaimana kalau kita belajar bersama-sama? Baiklah. Lalu besoknya, aku dan kamu bertengkar. Karena ternyata kita memahami dunia dengan cara berbeda. Matahari yang terbit duluan atau bulan? Atau bulan sebenarnya tidak terbit? Siapa yang salah di antara kita? Tidak tahu. Besoknya, kita belajar lebih giat lagi agar semakin tahu. Tapi besoknya kita ti...

duniaku

dalam sebuah dunia kecil dimana waktu tidak terkira dan aku tidak menua dalam sebuah dunia kecil ketika bintang bersuka dan bulan tidak berduka dalam sebuah dunia kecil dimana cakrawala hanya sebatas asaku saja dalam sebuah dunia kecil yang di dalamnya mengalir air pelan-pelan tanpa terpaksa dalam sebuah dunia kecil yang angkasa sebagai panggung buat burung-burung menari abai gravitasi dalam sebuah dunia kecil yang rumputnya hijau dan tak tumbuh terlalu tinggi dalam sebuah dunia kecil kurasakan udara hanya imaji dan denyut nadi hanya ilusi. aku tinggal dalam sebuah dunia kecil yang tak ada pertanyaan mau kemana aku ini --07